Apakah Rezim Korea Utara Benar-benar Dalam Bahaya?

Discussion in 'Berita dan Informasi' started by politik, Jun 13, 2019.

  1. politik

    politik New Member

    Joined:
    Jan 20, 2018
    Messages:
    212
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Apa yang sebenarnya tengah terjadi di Korea Utara selalu sulit diketahui oleh publik internasional, karena sifat negara ini yang benar-benar mengisolasi diri. Masalah dalam mencoba memahami rezim Korea Utara tidak hanya bahwa pertimbangan kepemimpinannya dijaga dengan sangat ketat, tetapi bahwa Pyongyang telah menyempurnakan seni memanipulasi bagaimana ia ingin dunia melihatnya. Kita tidak dapat dengan pasti menarik kesimpulan lengkap tentang arti sebenarnya atau maksud dari perubahan personal Kim Jong-un.

    Oleh: Balbina Y. Hwang (World Politics Review)

    Korea Utara tidak pernah menjadi negara yang mudah dipahami oleh orang luar. Tetapi siklus perkembangan yang tampaknya bertentangan baru-baru ini di salah satu negara paling terisolasi di dunia tersebut, terlihat membingungkan.

    Bulan lalu, ada laporan perombakan kepemimpinan besar-besaran di Pyongyang, diikuti oleh laporan mengejutkan di media Korea Selatan bahwa beberapa pejabat penting Korea Utara yang bertanggung jawab atas perundingan dengan Amerika Serikat (AS) telah dieksekusi atau disingkirkan. Namun, dalam waktu seminggu, beberapa pejabat ini muncul kembali.

    Kisah-kisah ini adalah pengingat bahwa seringkali liputan tentang Korea Utara tidak seperti yang awalnya diberitakan—terutama berita yang paling menarik perhatian tentang gejolak rezim Korea Utara. Mengapa banyak dari laporan tentang Korea Utara ini sering diterima sebagai fakta, meskipun banyak sejarah kesalahpahaman tentang negara dan sifat rezim Korea Utara?

    Sebagian besar pengamat Korea Utara terlalu cepat untuk menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang sangat terbatas dan bahkan lebih sedikit pengetahuan tentang rezim yang—meskipun brutal dan totaliter—juga jauh lebih kompleks daripada kebanyakan negara mafia yang dipimpin oleh penguasa gila.

    Bahkan analis lain yang lebih bijaksana dan berhati-hati—termasuk para pembuat kebijakan yang bermaksud baik—telah menarik kesimpulan yang salah tentang Korea Utara selama bertahun-tahun. Terlepas dari semua anggapan dan prediksi tentang jatuhnya rezim, dinasti Kim terus bertahan.

    Masalah dalam mencoba memahami rezim Korea Utara tidak hanya bahwa pertimbangan kepemimpinannya dijaga dengan sangat ketat, tetapi bahwa Pyongyang telah menyempurnakan seni memanipulasi bagaimana ia ingin dunia melihatnya. Kita tidak dapat dengan pasti menarik kesimpulan lengkap tentang arti sebenarnya atau maksud dari perubahan personal Kim Jong-un.

    Apakah itu adalah sinyal langsung untuk Amerika Serikat tentang negosiasi nuklir, atau tanda-tanda kekacauan atau perselisihan elit? Apakah itu merupakan sinyal untuk Korea Selatan tentang kepuasan atau ketidakpuasan atas deklarasi antar-Korea, atau merupakan tanda pergeseran generasi ke arah kepemimpinan yang lebih muda?

    Ketika berbicara tentang ekonomi, situasinya sama buramnya. Serangkaian laporan baru-baru ini tentang kondisi ekonomi yang mengkhawatirkan di Korea Utara membingungkan, juga karena banyak cerita yang tampaknya bertentangan.

    Pada awal Mei, agen-agen Amerika Serikat memperingatkan bahwa 40 persen populasi Korea Utara—atau sekitar 10 juta orang—kemungkinan besar “membutuhkan” bantuan makanan setelah mengalami salah satu panen terburuk dalam satu dekade.

    Negara ini telah mengalami kekurangan pangan kronis sejak pertengahan tahun 1990-an, ketika negara itu menderita bencana kelaparan bersejarah. Meskipun angka yang akurat masih belum tersedia, namun angka kematian pada saat itu, setidaknya, diperkirakan mencapai ratusan ribu, di mana sebagian besar penilaian luar memperkirakan lebih dari satu juta korban.

    Kelaparan tahun 1990-an tampaknya dipicu oleh keruntuhan ekonomi terkait sejumlah faktor geopolitik, termasuk berakhirnya Perang Dingin. Namun yang terpenting, itu terutama disebabkan oleh kegagalan sistem totaliter Korea Utara itu sendiri, yang—di bawah kepemimpinan Kim Jong-il—telah meluncurkan kebijakan “Songun” atau “militer pertama” yang salah pada tahun 1995.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini
     


Loading...

Loading...

Share This Page