Asal Muasal Sejarah Dan Perkembangan Sablon Kaos

Afenti

New Member

Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin canggih, banyak sekali teknik sablon kaos yang berkembang mulai dari teknik sablon manual, transfer paper hingga munculnya printer DTG yang dapat mencetak kaos dalam waktu yang singkat.

Namun tahukah anda bagaimana teknik sablon ditemukan? lalu kapan teknik sablon dipatenkan dan mulai digunakan? dari mana inovasi untuk menciptakan printer DTG mulai muncul? Kali ini kita akan membahas seluk beluk teknik sablon dan perkembangannya.

Sejarah teknik printing atau pencetakan dimulai secara sangat sederhana di Tiongkok pada zaman Dinasti Song (960 – 1279 M). Cendekiawan Tiongkok berinovasi membuat alat yang bisa mencetak sebuah tulisan di kertas tanpa perlu menulisnya.

Penciptaan block printing dan tinta khusus ini memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam tradisi literatur.

Meskipun begitu, Tiongkok tidak pernah maju dalam hal cetak-mencetak karena abjad Tiongkok yang terdiri dari beribu-ribu ideogram yang masing-masing berbeda.

Hal tersebut menyebabkan abjad Tiongkok sangat sulit dimasukkan ke dalam mesin tik. Hal ini berdampak pada macetnya perkembangan teknologi printing di Tiongkok.

Setelah revolusi industri tahun 1800-an, teknik cetak baik kain maupun kertas semakin berkembang. Teknik sablon pertama kali dipatenkan oleh Samuel Simon pada tahun 1907 di Inggris.


Awalnya, penyablonan digunakan sebagai metode untuk melakukan pencetakan pada kertas dinding (wallpaper), pencetakan sprei, sutra, atau bahan – bahan kain lainnya yang memiliki kualitas tinggi.

Namun akhirnya penyablonan merambah ke berbagai media, termasuk sablon kaos, sablon poster dan sablon pada media lainnya.

Tahun 1960 seorang wirausahawan sekaligus seniman dari Amerika Serikat bernama Michael Vasilantone, mengembangkan suatu mesin sablon rotary untuk lebih dari satu warna dan mematenkannya.

Mesin penyablonan tersebut pada awalnya diproduksi untuk mencetak logo dan tulisan pengenal untuk kaos pada klub bowling. Namun pada akhirnya lebih dikembangkan lagi sebagai suatu solusi baru dalam mencetak sablon kaos satu hari jadi.


Paten yang diajukan oleh Vasilantone tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, mesin sablon model rotary ala Vasilantone ini akhirnya dikenal oleh berbagai pengusaha di Amerika.

Tak hanya itu, mesin sablon baju kaos tersebut pun menjadi salah satu mesin paling populer dalam dunia industri penyablonan hingga kini.

Saat ini perkembangan industri sablon di dunia sudah semakin maju dan berkembang. Khususnya pada industri print kaos.

Alternatif membuat kaos sablon kini tidak hanya terbatas pada penggunakan sablon manual saja, namun juga sudah semakin maju dengan merambah ke dunia digital.

Bentuk paling awal dari sablon kaos digital adalah menggunakan teknik transfer paper. Secara sederhana teknik yang diterapkan pada sablon kaos digital dengan transfer paper adalah: mencetak gambar dengan menggunakan printer kertas biasa pada kertas khusus yang disebut transfer paper, dengan tinta khusus yang disebut tinta sublime.

Setelah itu, gambar yang sudah di-print dipindahkan ke kaos dengan cara melakukan heat transfer. Heat transfer ini dilakukan menggunakan mesin hot press dimana kertas diletakkan diatas kaos lalu dipanaskan.

Bentuk paling sederhana dari mesin hot press adalah setrika rumah tangga biasa. Setelah gambar menempel pada kaos, lalu transfer paper dilepaskan atau dipisahkan dari kaos tersebut dengan cara dikelupas.

Cara tersebut cukup rumit dan membutuhkan biaya besar, oleh karena itu teknologi terus berkembang mencari cara agar dapat mencetak langsung pada kaos, tanpa melalui transfer paper. Dari pemikiran tersebut, lahirlah printer DTG (Direct to garment).

Semua perusahaan yang mengembangkan teknologi ini awalnya mengadopsi teknologi printer kertas. Tujuannya hanya satu: menggantikan kertas dengan kain.

DTG Impor


Beberapa perusahaan pelopor adalah ANAJET di Amerika, dan DTG Digital dengan produknya VIPER. Dalam 10 tahun terakhir perkembangan DTG semakin cepat, dan semakin terjangkau harganya.

DTG pun mendapat respon pasar yang baik. Namun pemilikan mesin cetak DTG masih terbatas pada vendor-vendor kaos besar. Hingga para teknisi lokal mampu merakit DTG dengan memodifikasi printer epson sebagai prototipenya.

Bahkan produk-produk rakitan epson itu menjadi brand-brand yang cukup berkembang di tanah air. Para industri perakit berlomba menciptakan DTG yang berkualitas dan memberikan layanan aftersales yang baik.

DTG direspon baik karena keunikannya mampu melayani sablon atau cetak kaos eceran/satuan yang jarang bisa dilayani oleh sablon manual alias screen printing.

Customer bisa mendesain sendiri kaosnya untuk dicetak pada kaos sehingga kaos yang dipakai tidak ada kembarannya.

Di sinilah posisi dan peran DTG semakin dibutuhkan oleh customer yang tidak suka pada kaos pasaran sehingga meng-custom kaosnya dengan DTG.

Sampai dengan perkembangan yang bisa dibanggakan oleh pemain DTG di Indonesia dewasa ini adalah keberhasilannya menciptakan trend setter kaos 3 dimensi (3D).


Nah itu tadi ulasan mengenai teknik sablon kaos dari awal penemuannya hingga perkembangannya sampai sekarang. Semoga bermanfaat :)
 
Loading...
Top