Asia Tenggara Rentan Jadi Sasaran Serangan Siber Korea Utara

Discussion in 'Berita dan Informasi' started by politik, Apr 19, 2019.

  1. politik

    politik New Member

    Joined:
    Jan 20, 2018
    Messages:
    225
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Para peneliti dari sebuah wadah pemikir mengatakan bahwa Asia Tenggara rentan jadi sasaran serangan siber Korea Utara, di mana sektor kripto di Asia Tenggara harus siap menghadapi tantangan keamanan berkelanjutan dari Pyongyang. Mereka berpendapat bahwa, karena Korea Utara dikenai sanksi internasional yang luas, Korea Utara telah menggunakan banyak teknik untuk mengumpulkan dan memindahkan dana, dan untuk mengakses barang dan jasa yang dilarang.

    Oleh: Asia Times

    Korea Utara adalah “aktor dunia maya yang gigih dan canggih, yang membutuhkan sumber daya keuangan,” klaim sebuah laporan keamanan yang baru diterbitkan. Korea Utara dapat secara signifikan meningkatkan upayanya untuk menargetkan “industri cryptocurrency Asia Tenggara yang baru berkembang namun pesat,” seiring Korea Utara terus “mencari cara untuk mendapatkan dan mengeksploitasi cryptocurrency.”

    Laporan yang berjudul Closing the Gap: Guidance for Countering North Korean Cryptocurrency Activity in Southeast Asia, diterbitkan pada 15 April 2019 oleh wadah pemikir Royal United Services Institute (RUSI)—yang kerap membahas isu pertahanan keamanan—yang berbasis di London.

    Mereka berpendapat bahwa, karena Korea Utara dikenai sanksi internasional yang luas, Korea Utara telah menggunakan banyak teknik untuk mengumpulkan dan memindahkan dana, dan untuk mengakses barang dan jasa yang dilarang.

    Ini, kata RUSI, dapat menghadirkan “tantangan keamanan berkelanjutan” untuk wilayah Asia Tenggara.

    Pada bulan Maret, laporan lain—yang diterbitkan oleh komite sanksi Korea Utara Dewan Keamanan PBB—mengklaim bahwa Pyongyang telah mengumpulkan lebih dari $670 juta dalam bentuk crypto dan mata uang asing, melalui kejahatan dunia maya dan peretasan.

    Laporan PBB itu mengatakan bahwa divisi spesialis militer Korea Utara telah “secara aktif mengobarkan perang online” terhadap lembaga keuangan asing selama empat tahun terakhir. Dengan demikian, mereka dapat menghindari sanksi internasional dan mendapatkan akses kepada mata uang keras.

    Baca juga: Meski Ketegangan Diplomatik Mereda, Korut Tetap Lanjutkan Serangan Siber

    RUSI mengatakan, metode ini canggih dan memungkinkan Korea Utara untuk membiayai program senjata pemusnah massal (WMD) mereka “secara langsung”, dan untuk mengumpulkan dana untuk operasi yang sedang berlangsung. Contohnya adalah “pengadaan barang-barang mewah dan barang-barang terlarang lainnya.”

    Baca Artikel Selengkapnya di sini
     


Loading...

Loading...

Share This Page