Ini Nih Dampak Kalau Diet Asal-Asalan, Dampaknya Gak Main-Main

Harhype

New Member
Ini Nih Dampaknya Kalau Diet Asal-Asalan, Dampaknya Gak Main-Main

Melonjaknya berat badan menjadi permasalahan yang harus dihadapi oleh banyak orang di tengah pandemi Covid-19. Keharusan untuk tetap berada di rumah ditambah lagi penutupan fasilitas olahraga setelah diterapkannya pemberlakukan Pembatasan Kegaiatan masyarakat (PPKM) Darurat membuat banyak orang akhirnya terjerumus ke gaya hidup tidak sehat.

Kurang bergerak ditambah lagi kebiasaan mencamil yang makin menjadi-jadi lantaran dapat dilakukan dengan leluasa sembari bekerja, belajar, atau bersantai di rumah. Kebiasaan itu juga didukung oleh layanan pesan antar makanan lewat ojek daring yang membuat banyak orang dengan mudah memesan berbagai macam camilan sesuai keinginan tanpa perlu keluar rumah.

Alhasil, hanya dalam kurun waktu beberapa bulan timbangan berat badan melonjak. Bahkan, tak jarang lonjakan itu mencapai dua digit atau melampaui 10 kilogram dari berat badan awal.

Lantas, apa yang harus dilakukan agar berat badan tak melonjak selama menghabiskan waktu di rumah? Berat badan berlebih tentunya bukan hal yang baik, tidak hanya dari sisi penampilan, berat badan berlebih menyebabkan tubuh menjadi tidak sehat dan mudah terserang penyakit.

Ya, berat badan berlebih atau obesitas memang meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan serius, seperti penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi. Obesitas juga dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup dan masalah psikologi, seperti kurang percaya diri hingga depresi.

Menurut Ahli gizi dari Ahli gizi dr. Tan & Remanlay Institute dr. Tan Shot Yen, untuk menjaga agar berat badan tetap ideal sebenarnya mudah saja dilakukan. Cukup terapkan pola makan gizi seimbang dan batasi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih setiap harinya. Gizi seimbang yang dimaksud adalah konsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan dengan porsi yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing, bergantung pada usia, aktivitas yang dilakukan, hingga kondisi fisiologis.

Adapun untuk konsumsi gula, garam, dan lemak bisa mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 30/2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.

Jumlah gula yang boleh dikonsumsi setiap harinya tak boleh lebih dari 50 gram atau setara dengan empat sendok makan. Kemudian untuk garam dan lemak masing-masing setiap harinya maksimal dikonsumsi 5 gram (satu sendok teh) dan 67 gram (lima sendok makan).

Baca : Biar Sukses Diet Nasi, Kenali Ragam Pangan Alternatif Ini

Selain itu, yang tak kalah penting adalah mengurangi konsumsi makanan olahan yang biasanya punya kandungan gula atau garam terlampau tinggi.

Jika memang sudah terlanjur punya berat badan berlebih, diet yang diimbangi dengan olahraga tentunya jadi cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan tubuh ke berat badan ideal. Banyak macam diet yang bisa dilakukan, tetapi bukan berarti semuanya cocok untuk kalian lakukan.

Kesalahan menerapkan metode diet dampaknya tidak main-main karena berkaitan dengan asupan gizi yang diterima tubuh. Bukannya mencapai badan ideal, diet yang kalian lakukan justru menimbulkan gangguan tubuh, seperti gangguan pencernaan Gastroesophageal reflux disease (GERD) yang membuat tubuh terasa tidak nyaman dan cukup berbahaya. Tan mengatakan, ada beberapa ciri diet yang salah dan masih sering dilakukan.

Pertama, kerap kali untuk mencapai body goals yang dimakan dan diminum justru bukan hal yang lazim di lingkungan dan keseharian hidup.

Kedua, diet yang dilakukan tanpa berkonsultasi misalnya, menghilangkan karbohidrat, protein, dan lemak.

Ketiga, diet yang dilakukan dengan mengurangi serapan makanan. Caranya yang umum dilakukan adalah dengan tidak makan, dan hanya mengonsumsi satu jenis makanan saja.

Keempat, adalah menggunakan istilah detoks tanpa menyeimbangkan pasokan dalam tubuh. Kelima, rendahnya literasi pasien tentang pentingnya asupan gizi sehingga membuat pasien beralih ke pengobatan herbal tanpa studi kasus medis yang jelas.

“Memakai metode herbal harus dilihat, kalau itu menekan nafsu makan seseorang, nanti kebutuhan gizi menjadi kacau bisa malnutrisi. Atau jika pengobatan herbal membuat usus tak menyerap lemak, semua vitamin yang larut dalam lemak seperti A, D, E, K akan ikut melorot, hormon jadi kacau,” tutur Tan.

Tan menilai, pentingnya pasien berkonsultasi dan skeptis terhadap efektivitas kerja obat herbal untuk diet. Dia mengingatkan dalam mencapai badan ideal dan sehat sangat penting untuk berdialog dengan pakar yang memiliki lisensi. Oleh sebab itu, dia menilai agar ragam peluang informasi untuk second opinion harus membantu pasien lebih terinformasi bukan dirugikan.

 
Loading...

Thread Terbaru

Top