Izin Edar Itu Apa Sih?

ika1303

New Member
Ane mau berbagi thread lagi yah. Buat nambah wawasan agan2 tentang izin edar sebuah produk. Btw cerita dibawah ini cuma fiksi ya, biar mudah dipahami isi topiknya aja hehe...

Sebuah cerita tentang mahasiswa yang sok tau

Slamet adalah mahasiswa semester 1 jurusan kedokteran di sebuah universitas swasta yang kurang terkenal, yang terletak di sebuah kota kecil di pulau terluar di Indonesia. Butuh waktu tiga hari dari kota asal Slamet ke kota tersebut, karena harus menggunakan 5 moda trasportasi yang berbeda untuk mencapainya. Pertama naik pesawat dulu dari kota asal Slamet ke ibukota provinsi, kemudian dari situ naik pesawat DC 8 (baca: di isi 8 orang, alias pesawat perintis). Turun di kota terdekat, yang jaraknya masih sekitar 6 pulau lagi. Kapal ferry jadwalnya setiap 2 hari, kalau nasib mujur bisa langsung naik, kalau tidak harus tunggu 2 hari, setelah itu sambung dengan perahu tempel yang digunakan oleh nelayan kembali ke kampung asalnya setelah menangkap ikan. Jadi jangan heran kalau harus duduk diatas hasil tangkapan nelayan karena memang perahu itu tidak didesain untuk penumpang. Dan setelah itu baru moda angkutan yang terakhir dari pantai menuju tempat kostnya yang berjarak 5 km, yaitu...kaki.

Slamet adalah korban obsesi bapaknya yang ingin punya anak seorang dokter, walaupun semua nilai akademik di SMA tidak mendukung. Gurunya terpaksa meluluskan Slamet dengan nilai minimalis karena lama dia sekolah disitu lebih lama dari masa kerja gurunya. Bahkan sudah ganti 3 kepala sekolah, Slamet masih saja betah disitu. Kembali ke obsesi bapaknya. Bapaknya yang pengusaha kaya, ingin mewariskan semua hartanya ke anak tunggalnya, Slamet, apabila Slamet berhasil menjadi seorang dokter. Tergiur warisan itu, walaupun nggak ada minat, bakat dan potensi dia daftar semua sekolah kedokteran di Indonesia, dan hasilnya semua menolak, kecuali sekolah kedokteran tempat Slamet kuliah saat ini. Karena baru buka dan tidak ada peminatnya.

Liburan telah tiba, dan Slamet pulang ke kampung nya. Kepulangan Slamet tentu disambut dengan bahagia oleh bapaknya. Dan disuatu kesempatan bapaknya bertanya apa pelajaran yang diperoleh selama kuliah disana. Dengan pede nya Slamet berkata: “Pak, tahu nggak, semua produk itu harus memiliki izin edar. Kalau tidak memiliki izin edar berarti melanggar hukum dan bisa-bisa nanti para pembuat dan penjualnya masuk penjara.” Mendengar itu bapaknya Slamet yang pengusaha sandal jepit terkejut dan hampir pingsan, karena sandal jepit buatannya tidak memiliki izin edar. Boro boro ngurus izin edar, ngurus dirinya sendiri saja hampir tidak ada waktu.

Tidak mau dirinya bermasalah karena barang dagangannya tidak memiliki izin edar, maka keesokan harinya bapaknya mengajak Slamet ke kantor dinas kesehatan di kotanya. Kebetulan sebagai pengusaha lokal yang dari lahir dan besar di kota tersebut, dia kenal dengan semua orang, termasuk pak Kadis, alias kepala dinas kesehatan, teman main kelereng nya waktu kecil dulu. Sesampainya di kantor dinas, bapak dan anak langsung nyelonong ke kantor pak Kadis, maklum teman masa kecil, jadi tidak dia pikir tidak perlu protokoler-protokoleran lah. Dan dengan tampang marah karena kok sahabatnya tidak memberitahu perihal adanya ketentuan izin edar ini, kalah dengan anaknya, Slamet, yang baru 1 semester kuliah tapi sudah bisa memperingatkan bapaknya. Kemudian dengan bangganya disuruhnya Slamet untuk mengajari pak Kadis Kesehatan, perihal aturan bahwa seluruh produk yang dijual harus memiliki izin edar. Setelah mendengarkan dengan seksama, maka pak Kades membetulkan posisi duduknya dan membersihkan tenggorokannya dengan seteguk air putih, agar memberikan kesan berwibawa saat bicara.

“Begini dek Slamet, sampeyan itu sudah pernah baca Peraturan Menteri Kesehatan no 62 tahun 2017, tentang izin edar alat kesehatan, alat kesehatan diagnostic in vitro dan perbekalan alat kesehatan rumah tangga? Kalau belum ini saya berikan copy an nya, silahkan dibaca dan dimengerti sampai tuntas, baru kembali kesini.” Dengan malu-malu, Slamet bergumam… “belum pak Kadis, baik saya akan baca dulu.” Bagai merahnya kepiting rebus, bapak dan anak segera pamitan pulang sampai tidak sempat minum suguhan yang tersedia.

Sampai dirumah, masih dengan keringat yang bercucuran, maklum panas terik siang bolong ditambah malu, adalah kombinasi yang sangat pas untuk membuat keringat deras mengalir, bapak dan anak membuka kertas foto copy-an yang diberikan oleh pak Kadis. Dan baru sampai pasal 1 ayat 2, terjawablah kekuatiran sang bapak dan ke sok-tahu-an si Slamet:
Alat Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.

Jadi….. sandal jepit tidak perlu izin edar? Ya nggak lah, emangnya sandal jepit alat kesehatan? Kan yang harus punya alat kesehatan hanyalah alat kesehatan, sesuai dengan aturan dan kriteria yang berlaku. Oalaaah Slamet.. makanya belajar yang bener supaya nggak bikin bingung orang tua.

Kalian tentu tidak seperti Slamet kan? Yang sok tau dan tidak mau belajar aturan yang berlaku?
 
Last edited by a moderator:
Loading...

Thread Terbaru

Post Terbaru

Top