Kebijakan Luar Negeri Vladimir Putin: Gas, Senjata, Dan Pragmatisme

Discussion in 'Berita dan Informasi' started by politik, Feb 12, 2019.

  1. politik

    politik New Member

    Joined:
    Jan 20, 2018
    Messages:
    101
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Rusia akan berkonfrontasi dengan Barat karena Rusia berharap dapat mewujudkan integrasi Eurasia dan memperluas jejaknya secara global. Rusia bisa jadi kekurangan sumber daya modal dan merk global dari para pesaingnya, tetapi Vladimir Putin dengan ambisius berupaya memulihkan peran Perang Dingin Rusia sebagai pemain global dan pendukung integrasi Eurasia. Dipersenjatai dengan pragmatisme alih-alih komunisme, Putin memperkuat “zona kepentingan” tradisional Rusia dan memenangkan teman-teman baru dengan menggunakan energi, persenjataan, dan dosis anti-Barat yang kuat sebagai instrumen kebijakan yang efektif.

    Oleh: Alexander Kruglov (Asia Times)

    Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Moskow, Rusia pada bulan Januari 2019 untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan itu akan tampak seperti KTT lain antara dua orang kuat yang memiliki banyak kesamaan, jika bukan karena fakta bahwa pertemuan itu terjadi dengan latar belakang memburuknya hubungan Amerika Serikat-Turki dan gelombang baru ekspansionisme Rusia yang melanda Asia dan Timur Tengah.

    Erdogan, kesal dengan sanksi Amerika, jelas merasa nyaman bersama “teman lamanya.” Omzet perdagangan Rusia-Turki telah meningkat tajam dan akan segera naik menjadi US $ 100 miliar, menurut Putin, sementara arus turis Rusia ke Turki telah mencapai rekor angka enam juta. Tapi pertemuan itu bukan hanya tentang ekonomi. Bagi Putin, ini adalah kesempatan lain untuk menunjukkan visinya yang semakin tegas tentang aliansi Eurasia yang berpusat di Rusia dalam menghadapi kepentingan Amerika dan Barat.

    Turki, anggota NATO yang selama bertahun-tahun Perang Dingin berkonfrontasi dengan Soviet, masih mengakomodasi aset Amerika di pangkalan udara Icirlik dan mengendalikan akses dari Laut Hitam ke Mediterania melalui Selat Bosporus. Semua ini membuat Turki layak dirayu.

    Pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia oleh Turki telah menyebabkan kecemasan Amerika, yang mencoba menggagalkannya dengan menawarkan rudal Patriot sebagai gantinya. Kontrak S-400 senilai US$2,5 miliar yang ditandatangani pada bulan Desember 2017 dan empat baterai diperkirakan akan dikirim mulai bulan Juli 2019.

    “AS telah berusaha memaksa Turki untuk meninggalkan kerja sama industri pertahanan dengan Rusia,” kata Ruslan Mamedov, seorang ahli Timur Tengah di Russian International Affairs Council. “Tapi Turki bertekad untuk membuat keputusan sendiri.”

    Tentu saja, Rusia memiliki perdebatan sendiri dengan Turki. Dalam konflik Suriah, tujuan-tujuan Rusia, menopang Suriah dan mempertahankan pengaruh di Suriah dan sekitarnya, hampir tidak selaras dengan Turki. Kemudian ada juga Armenia, di mana Rusia mengerahkan 5.000 tentara dan persenjataan di dua pangkalan di perbatasan Turki, yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi Erdogan.

    Namun Rusia dan Turki jelas menjalin hubungan baik. Persahabatan kedua pemimpin tersebut telah memainkan peran, dengan adanya ketegangan dengan Barat memainkan peran lainnya.

    Rusia bisa jadi kekurangan sumber daya modal dan merk global dari para pesaingnya, tetapi Putin dengan ambisius berupaya memulihkan peran Perang Dingin Rusia sebagai pemain global dan pendukung integrasi Eurasia. Dipersenjatai dengan pragmatisme alih-alih komunisme, Putin memperkuat “zona kepentingan” tradisional Rusia dan memenangkan teman-teman baru dengan menggunakan energi, persenjataan, dan dosis anti-Barat yang kuat sebagai instrumen kebijakan yang efektif.

    BERTEMAN DENGAN IRAN DAN ARAB SAUDI

    Turki hanyalah salah satu prioritas Kremlin di Timur Tengah. Di Suriah, Rusia memastikan pemerintahan Bashir Assad bertahan dan berupaya mempercepat rekonstruksi. Suriah adalah sekutu regional terbesar Rusia dan gerbang masuk angkatan lautnya menuju Mediterania.

    Negara-negara Teluk juga memainkan peran. Contoh kasus: pemulihan hubungan yang luar biasa antara Putin dengan Arab Saudi. Selama beberapa dekade, Arab Saudi memiliki hubungan yang sulit dengan Rusia, tetapi Putin bersahabat dengan bangsawan-bangsawan Saudi, termasuk putra mahkota Mohammed bin Salman yang kontroversial.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini
     


Loading...

loading...

Loading...

Share This Page