Timbulkan Perpecahan, Aliansi Trump-netanyahu Bisa Berdampak Bencana

Discussion in 'Berita dan Informasi' started by politik, Apr 20, 2019.

  1. politik

    politik New Member

    Joined:
    Jan 20, 2018
    Messages:
    186
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Trump-Netanyahu sama-sama kerap menimbulkan perpecahan dan menyulut kebencian di negaranya. Netanyahu awalnya waspada terhadap Trump, curiga ketika orang bodoh yang tak menentu itu memasuki Ruang Oval. Namun seiring berjalannya waktu, ia menjadi terpesona ketika menyadari bahwa Trump siap untuk melakukan apa pun yang ia minta. Netanyahu telah menemukan pemimpin yang berpikiran sama dalam diri Donald Trump. Dan bersama, mereka dapat menimbulkan bencana.

    Oleh: David Remnick (The New Yorker)

    Dua puluh satu tahun yang lalu, Benzion Netanyahu—seorang akademisi sejarah abad pertengahan dan ayah dari seorang Perdana Menteri Israel—bersantai dengan seorang reporter di rumahnya di Haportzim Street, di Yerusalem Barat, dan bertanya-tanya apakah anak lelakinya—yang kerap dipanggil “Bibi”—dapat melakukan hal yang tepat.

    Benzion adalah seorang ideolog tanpa kompromi dan anggota gerakan Revisionis. Dia membenci elit liberal. Menurutnya, mereka telah melemahkan karier akademisnya, dan melemahkan negara dengan ocehan mereka tentang berdamai dengan Palestina.

    Para pendukung Partai Buruh—kekuatan dominan dalam politik Israel selama beberapa dekade—dalam pikirannya, tidak hidup di dunia nyata. “Sejarah Yahudi sebagian besar merupakan sejarah holocaust,” katanya hari itu.

    Benzion meninggal pada tahun 2012. Dia berusia 102 tahun. Kekhawatiran yang mungkin dia miliki bahwa putranya tidak memiliki kelicikan politik dan keberanian ideologis untuk mengakhiri harapan dua negara yang diajukan oleh perjanjian damai Oslo, adalah sebuah kesalahan.

    Benjamin Netanyahu—yang memenangkan masa jabatan kelima pekan lalu—telah membuktikan bahwa dirinya cerdas, sinis, dan mau melakukan dan mengatakan apa pun untuk tetap menjabat.

    Mempraktikkan politik perpecahan, ia menargetkan musuh-musuh di pers, akademi, dan pengadilan. Ia juga meningkatkan sekutu global, dari para pemimpin Arab Sunni di wilayahnya sendiri hingga Viktor Orbán di Hungaria; Jair Bolsonaro di Brasil; dan Vladimir Putin di Rusia. Dia telah menentukan bahwa dunia tidak lagi terlalu peduli tentang Palestina atau tentang kebaikan demokrasi. “Kamp perdamaian” yang dibenci Benzion, sekarang nyaris tidak ada.

    Namun, kepentingan utama Netanyahu adalah kepentingan pribadi. Dia tidak hanya berhenti berpura-pura ingin mencapai penyelesaian dengan Palestina, dia sekarang juga ingin mencaplok permukiman Yahudi di Tepi Barat. Dengan menyuarakan pencaplokan, ia dapat mencoba untuk memenangkan dukungan abadi dari para rasis dalam sebuah koalisi sayap kanan, yang mungkin, pada gilirannya, meredam berbagai tuduhan korupsi yang ia hadapi.

    Dulu, diskusi politik di Yerusalem adalah tentang memperdagangkan tanah untuk perdamaian; Netanyahu sekarang mungkin berusaha untuk memperdagangkan aturan hukum untuk pencaplokan.

    Ini adalah masalah baru. Di masa lalu, ketika Perdana Menteri Israel menghadapi masalah hukum, mereka pergi meninggalkan sayap kiri untuk memperluas dukungan mereka baik di dalam maupun luar negeri—seperti ketika, pada tahun 2005, Ariel Sharon mengevakuasi permukiman Yahudi dari Jalur Gaza.

    Dan Presiden Amerika biasanya membujuk Netanyahu untuk mematuhi aturan. Pada tahun 1998, Bill Clinton mendorongnya untuk membuat kesepakatan Sungai Wye, yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian dengan Palestina. Di bawah tekanan dari Barack Obama, Netanyahu menyampaikan pidato di Universitas Bar-Ilan pada tahun 2009, di mana ia membuat janji-janji manis untuk solusi dua negara. Itu semua telah berubah, terutama sekarang ketika ia telah menemukan pemimpin yang berpikiran sama dalam diri Donald Trump.

    Sama seperti Netanyahu yang memberikan instruksi kepada Trump tentang kemungkinan politik populisme sayap kanan, Trump telah memberi Netanyahu instruksi tentang kemungkinan makian yang memalukan, penindasan pemilih, dan penghinaan terhadap hukum. Netanyahu sekarang senang menggunakan istilah seperti “berita palsu.”

    Netanyahu menyebut penyelidikan terhadap kasus keuangannya sebagai “perburuan penyihir.” Untuk menekan suara Arab dalam pemilu pekan lalu, para pendukungnya memasang lebih dari seribu kamera di tempat pemungutan suara di mana warga negara Arab biasanya memilih, untuk mengintimidasi mereka.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini
     


Loading...


Share This Page