Diplomasi Kekerasan: Apakah Kita Berperang Atau Bernegosiasi Di Gaza?

Discussion in 'Berita dan Informasi' started by politik, Apr 20, 2019.

  1. politik

    politik New Member

    Joined:
    Jan 20, 2018
    Messages:
    186
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Dengan tidak adanya perundingan langsung atau perang skala penuh yang menjadi opsi di Gaza, “diplomasi kekerasan” adalah satu-satunya pilihan. Diplomasi kekerasan mengacu pada negosiasi diplomatik yang dilakukan seiring kekerasan berlanjut. Jadi apakah kita sebenarnya berperang atau bernegosiasi di Gaza?

    Oleh: Prof. Shmuel Sandler (Israel Hayom)

    Salah satu pertanyaan tentang konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas adalah, apakah kita berperang atau bernegosiasi. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana negosiasi dapat dilakukan sementara dua pihak yang tidak memiliki kesamaan sama-sama menggunakan kekuatan. Bukankah penggunaan kekerasan bertentangan dengan negosiasi politik, dan bukankah penggunaan kekuatan militer bertentangan dengan diplomasi?

    Fakta-faktanya jelas. Tidak ada pihak dalam konflik ini yang mengakui hak pihak lain untuk hidup, dan oleh karena itu mereka seharusnya tidak dapat bernegosiasi. Negosiasi saat ini sedang berlangsung dengan Mesir sebagai mediator dan melalui utusan Timur Tengah Nickolay Mladenov. Pada saat yang sama, roket ditembakkan dari Gaza ke komunitas Israel di sepanjang perbatasan dan bahkan lebih jauh ke Israel, dan IDF menanggapi dengan serangan udara terhadap Hamas dan fasilitas Jihadis Islam.

    Apa alasan untuk mengadakan negosiasi sambil menggunakan kekuatan, apa alasan untuk menggunakan kekerasan dan menyebabkan kerusakan, dan apa gunanya blokade sementara uang dan barang terus mengalir ke Jalur Gaza?

    Pemikiran yang strategis dapat membantu kita: perbedaan klasik antara perang dan diplomasi—yang diterima sejak abad ke-19—telah ditantang di zaman kita. Negosiasi saat ini dengan Hamas dapat digambarkan sebagai “diplomasi kekerasan”—sebuah istilah yang diciptakan oleh pemenang hadiah Nobel Thomas Schelling. Schelling mengacu pada perang dengan ruang lingkup terbatas, yang dilakukan Amerika Serikat (AS) di Vietnam atau Korea, tetapi juga relevan dengan konflik seperti konflik di sekitar Gaza.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini
     


Loading...

Loading...

Share This Page