Pertemuan Kim-xi Di Korea Utara: Signifikan, Tapi Tak Akan Ubah Permainan

politik

New Member
Pertemuan Kim-Xi di Korea Utara mungkin signifikan karena berbagai alasan, paling tidak untuk tujuan propaganda dan prospek masa depan keterlibatan ekonomi China di Korea Utara, ketika atau jika sanksi terhadap Korea Utara dicabut. Tapi pertemuan keduanya tidak akan mengubah permainan.

Oleh: Benjamin Katzeff Silberstein (Foreign Policy Research Institute/Eurasia Review)

Presiden China Xi Jinping menuju ke Pyongyang untuk kunjungan kenegaraan pertama oleh seorang pemimpin China ke Korea Utara dalam lebih dari sepuluh tahun. Ini adalah peristiwa penting, dan mengingat betapa terhambatnya proses diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara, tentu ada harapan di semua pihak bahwa kunjungan Xi akan mengubah sesuatu.

Pertanyaannya adalah, apa sebenarnya yang diubah itu. Bagi Korea Utara, mereka kemungkinan tidak akan mengubah sesuatu yang paling gigih mereka tuntut: keringanan sanksi.

Yang pasti, Kim Jong-un kemungkinan akan mendapatkan sesuatu dari kunjungan tersebut. Di masa lalu, harga bensin di pasar Korea Utara relatif berkaitan dengan keadaan hubungannya dengan China. Yaitu, ketika hubungan membaik, sering terlihat bahwa harga bahan bakar cenderung turun. Harga bahan bakar telah jatuh ke level yang relatif rendah selama beberapa minggu terakhir, yang dapat menunjukkan bahwa pasokan China telah meningkat.

Penurunan harga juga bisa diakibatkan oleh faktor musiman. Bukan hanya harga bahan bakar yang menunjukkan bahwa implementasi sanksi agak mereda pada saat kunjungan Kim Jong-un ke China, dan adanya tanda-tanda lain dari hubungan yang membaik. Di masa lalu, ada juga laporan bahwa beberapa pekerja Korea Utara diizinkan kembali ke China sekitar waktu kunjungan Kim.

Ketika peristiwa positif dalam hubungan antara kedua negara terjadi, tekanan sanksi China cenderung sedikit berkurang secara simbolis. Tetapi perubahan semacam itu bukanlah perubahan besar dalam proses saat ini, atau dalam situasi geopolitik atau ekonomi Korea Utara.

Xi mungkin (secara kiasan) datang membawa sekitar 100.000 ton bantuan makanan, serta pupuk. Dalam konteks ini, itu bahkan tidak banyak. Sebagai referensi, perkiraan defisit makanan di Korea Utara menurut Program Pangan Dunia adalah 1,36 juta ton. Donasi Korea Selatan sebesar 50.000 ton juga tidak banyak mengurangi defisit ini, meskipun lebih banyak lagi yang akan datang dari kedua negara tersebut dalam waktu dekat. (Pemerintah Korea Utara dapat dengan mudah menutup kekurangan ini, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.)

Dilihat dari berita di dalam Korea Utara, keadaan ekonomi yang mengerikan—sebagian besar disebabkan oleh penerapan sanksi PBB oleh China—berlanjut dengan sedikit optimisme. Para pengusaha dan pekerja Korea Utara di China masih menghadapi kesulitan besar, dan banyak yang melihat visa mereka berakhir tanpa perpanjangan, atau ditolak sama sekali, sesuai dengan sanksi PBB.

Baca Artikel Selengkapnya di sini
 
Loading...

Thread Terbaru

Top