Tidak Akan Ada Negara Nato Yang Menantang Rusia Di Laut Hitam

Discussion in 'Berita dan Informasi' started by politik, Apr 15, 2019.

  1. politik

    politik New Member

    Joined:
    Jan 20, 2018
    Messages:
    217
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Amerika Serikat sedang bersiap untuk mengirim kapal NATO baru ke Laut Hitam sebagai tanggapan perseteruan bersenjata antara kapal perang Rusia dan Ukraina di Semenanjung Krimea yang dianeksasi bulan November lalu. Tiga orang terluka pada kejadian itu dan 24 angkatan laut Ukraina telah ditahan sejak saat itu. Rusia merespons rencana tersebut secara negatif.

    Oleh: Stephanie Trouillard (France 24)

    Pada tanggal 3 April, Amerika Serikat mengumumkan rencananya untuk memperkuat kehadiran militer di Laut Hitam dengan mengirimkan kapal-kapal baru. “Kami akan memastikan bahwa kami memiliki kemampuan untuk menahan Rusia yang sangat agresif,” ujar Duta Besar AS untuk NATO Kay Bailey Hitchison. Dia meyakinkan bahwa proposal AS bertujuan untuk “memastikan ada jalur yang aman bagi kapal-kapal Ukraina untuk melewati Selat Kerch.”

    Rencana ini muncul sehubungan insiden antara kapal perang Ukraina dan Rusia pada bulan November. Saat itu, penjaga pantai Rusia merebut kapal perang Ukraina yang mencoba memasuki Laut Azov melalui Selat Kerch yang memisahkannya dari Laut Hitam.

    Tiga orang terluka pada kejadian itu dan 24 angkatan laut Ukraina telah ditahan sejak saat itu.

    APAKAH SITUASI DI LAUT HITAM MEMBURUK?
    Quentin Lopinot, salah satu peneliti di wadah pemikir Washingtong, Center for Strategic and International Studies, yakin bahwa inisiatif Amerika ini utamanya adalah tanggapan dari situasi yang telah memburuk di wilayah Laut Hitam. “Rusia sedang memiliki misi untuk memodernisasi armada dan infrastrukturnya di sana secara besar-besaran, dan mereka menandai wilayah mereka secara jauh lebih agresif. Washington tidak ingin menutup mata atas perkembangan terbaru ini, khawatir Moskow akan berhasil menguasai wilayah itu secara de facto, atau mendominasi wilayah Laut Hitam. Jadi, tantangannya adalah dengan memastikan Laut Hitam tetap menjadi perairan internasional, dimana “kebebasan bernavigasi” dihormati.”

    Yves Boyer, peneliti di Foundation pour la recherche strategique (FRS), yakin bahwa utamanya hal itu semata hanyalah komunikasi yang baik. “Kita perlu membuat pengumuman. Amerika ingin meyakinkan Bulgaria, Romania, dan Georgia. Mungkin ada juga gagasan untuk membantu Presiden Poroshenko di Ukraina, yang kini tengah berada pada posisi buruk sebelum putara kedua pemilihan presiden,” jelasnya.

    Sementara itu respons Rusia adalah, mereka melihat rencana AS itu sebagai sesuatu yang negatif. “Kami tidak mengerti apa tujuan mereka melakukan hal ini. Situasi di Selat Kerch dan navigasid di sana sudah dikenal secara luas,” ujar juru bicara Kremlin Dmitri Peskov.

    Boyer percaya Rusia memiliki hal itu menganggap rencana AS itu sebagai sesuatu yang provokatif: “Hal itu seperti menggelitik dagu beruang, mengira hal itu akan membuatnya terkesan tapi sesungguhnya konyol. Pantai di Laut Azov sepenuhnya milik Rusia. Itu seperti mengatakan kepada AS untuk tidak berbisnis di Teluk Meksiko.”

    SELAT KERCH YANG STRATEGIS
    Sebelum perselisihan angkatan laut itu, selama berbulan-bulan Ukraina dan Barat telah menuduh Rusia secara sengaja “mengganggu” navigasi kapal-kapal dagang yang melewati Selat Kerch.

    Rusia telah mengklaim kontrol atas Selat Kerch sejak menganeksasi Krimea, yang memungkin negara itu untuk mengontrol kedua sisi selat.

    Baca Artikel Selengkapnya di sini
     


Loading...

Loading...

Share This Page